Satire • Parodi • Sindiran — Konten hiburan, bukan laporan berita faktual.
Kata Orang Sebelah
Satire / Parodi Ekonomi Dompet Rakyat

Harga Cabai Naik, Pedasnya Kehidupan Tak Terbendung

14 Juni 2026 • Redaksi Kata Orang Sebelah
Catatan: tulisan ini adalah satire/parodi, bukan laporan berita faktual. Dialog, adegan, atau kutipan dapat bersifat fiktif untuk kepentingan humor dan kritik sosial.

Kata orang sebelah, harga cabai naik bukan sekadar persoalan dapur. Ini sudah masuk kategori ujian nasional untuk dompet rakyat.

Dulu cabai dipakai untuk menambah rasa. Sekarang cabai dipandang seperti barang investasi. Ada warga yang mengaku tidak lagi membeli cabai kiloan, melainkan cukup menatapnya dari kejauhan untuk mendapatkan sensasi pedas secara mental.

Di beberapa dapur, sambal mulai diperlakukan seperti benda pusaka. Tidak boleh diambil sembarangan, harus ada alasan kuat, dan sebaiknya disaksikan anggota keluarga lain agar pembagiannya adil.

“Kalau dulu makan kurang pedas terasa hambar. Sekarang hidup saja sudah pedas, jadi makanan tidak perlu ditambah cabai lagi,” ujar seorang warga dalam semesta parodi Kata Orang Sebelah.

Fenomena ini membuat sebagian masyarakat mulai mengembangkan metode hemat baru. Ada yang mencelupkan sendok ke sambal sekali, lalu menggunakannya untuk tiga kali makan. Ada juga yang hanya menaruh cabai di tengah meja agar suasana makan terasa lengkap, meskipun tidak ada yang berani menyentuhnya.

Pedagang pun ikut bingung. Saat ditanya kenapa harga naik, sebagian menjawab sambil menatap langit, seolah-olah cabai baru saja naik kelas menjadi barang mewah.

Pakar ekonomi sebelah menyebut situasi ini sebagai “inflasi rasa pedas”, yaitu keadaan ketika harga naik lebih cepat daripada keberanian rakyat untuk bertanya kenapa.

Sementara itu, rakyat tetap mencoba tabah. Mereka sadar, hidup sudah lama tidak murah. Bedanya, sekarang rasa pedasnya lebih resmi.

Tulisan ini adalah satire/parodi, bukan laporan berita faktual.

Bagikan WhatsApp Facebook X