KATA ORANG SEBELAH — Program Makan Bergizi Gratis awalnya dirancang agar anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup. Namun dalam semesta parodi Kata Orang Sebelah, ada pihak-pihak yang diduga melihat program tersebut bukan sebagai sumber protein, melainkan sumber inspirasi finansial.
Kata orang sebelah, sebagian orang melihat menu makan bergizi dengan cara yang berbeda. Anak sekolah melihat ayam, telur, dan sayur. Sementara sebagian lainnya diduga melihat angka, proyek, dan lembaran dokumen yang bisa dibuat lebih gemuk daripada porsi makan siang.
Publik pun mulai kebingungan. Program yang seharusnya membuat badan sehat justru membuat penyidik harus bekerja ekstra menjaga tekanan darah tetap normal.
Di warung kopi, para pelanggan mulai membuat analisis sendiri.
“Kalau nasi kotaknya untuk anak-anak, kenapa yang kenyang malah yang lain?” tanya seorang pelanggan sambil mengaduk kopi yang sudah dingin sejak rapat koordinasi pertama.
Dalam dunia parodi ini, beredar cerita bahwa beberapa berkas proyek memiliki nafsu makan yang jauh lebih besar dibanding penerima manfaatnya. Anggaran yang seharusnya berjalan lurus ke sasaran justru diduga sempat mampir ke berbagai tikungan administrasi.
Kata orang sebelah, mungkin inilah satu-satunya program gizi yang membuat kalkulator bekerja lebih keras daripada ahli nutrisi.
Sebagian warga bahkan mengusulkan agar ke depan setiap proyek negara diberi label kandungan gizi.
Misalnya:
Karbohidrat untuk rakyat.
Protein untuk siswa.
Vitamin untuk pembangunan.
Dan pengawasan ekstra untuk yang suka menambah porsi diam-diam.
Di media sosial, netizen juga ramai berkomentar. Ada yang mengatakan korupsi sudah seperti bumbu wajib yang selalu berusaha ikut masuk ke setiap masakan besar negara.
Padahal rakyat sederhana hanya berharap satu hal. Jika program dibuat untuk anak-anak, maka manfaatnya benar-benar sampai kepada anak-anak. Bukan berhenti di tengah jalan karena ada yang terlalu lapar melihat anggaran.
Kata orang sebelah, bangsa ini sebenarnya tidak kekurangan program bagus. Yang sering kurang adalah kemampuan sebagian orang untuk menahan godaan ketika melihat angka dengan terlalu banyak nol di belakangnya.
Sampai proses hukum berjalan dan fakta-fakta terungkap di pengadilan, publik hanya bisa berharap bahwa yang dibersihkan bukan cuma dapur sekolah, tetapi juga dapur pengelolaan anggarannya.
Tulisan ini adalah satire/parodi, bukan laporan berita faktual. Dialog, adegan, dan tafsir dalam tulisan ini dapat bersifat fiktif untuk kepentingan humor dan kritik sosial.

